Ujian Nasional sekolah sudah di mulai, harap-harap cemas menunggu hasil Ujian menghantui anak-anak kita, dengan standar nilai kelulusan yang tinggi seakan-akan menjadi momok tiap tahun, meskipun sekarang pemerintah melalui Depdikbud sudah menterapkan untuk standar kelulusan bukan hanya dari nilai Ujian Nasional tapi juga di tambah hasil ujian harian di sekolah, tentunya ini membawa angin segar sehingga prosentase kelulusan menjadi bertambah, mudah-mudahan bisa 100% lulus semua sehinnga tidak mengulang kembali atau ikut ujian paket C.

Di sini saya mau cerita sedikit pengalaman ketika anak mau mendaftar SMP, yang mana di mulai ketika anak ikut Ujian Nasional saya ikut sport jantung juga, tapi untungnya untuk ikut Ujian Nasional saya sudah sedikit mempersiapakan, dengan mengikutkan anak ikut Bimbel dengan paket Lulus Ujian Nasional. Sykur Alhamduliilah anak sukses dengan nilai cukup membanggakan, dan sepertinya tidak ada kesulitan ketika akan mendaftar ke SMP pilihan, ya karena  mendapat nilai UAN 28,05  dengan 3 materi pelajaran.  Matematika, Bhs Indonesia dan IPA , rata2 9,35 sudah pasti menjadi jalan Tol untuk masuk SMP, tentunya SMP Negeri dong.

Saya yang tinggal di Kab Tangerang sudah yakin dengan nilai segitu pasti di terima di SMP Negeri pavorit se Kabupaten sekalipun, tapi rupanya anak punya keinginan lain, entah kenapa anak saya ingin bersekolah SMP di Kotamadya Tangerang + tujuan SMP pilihannya, wah- wah bagaimana ini kan keluar dari Rayon. Sebagai orang tua yang baik saya berusaha mengikuti keinginan anak, akhirnya mulai saya cari informasi tentang SMP tersebut hasil yang saya dapatkan agak membuat saya kaget, bagamana tidak kaget karena SMP tersebut di Kotamdya termasuk dalam hitungan pavorit dengan standar nilai yang di terima minim rata-rata 8,0 plus hanya mendapat Kuota 5% bila dari pindahan Rayon, tapi yang membuat saya semangat adalah  seluruh SMP Negeri di Kotamadya Tangerang tidak ada biaya macam-macam, misal uang gedung, SPP dsbnya alias gratis, tanya-tanya rupanya program dari Walikota rupanya, karena ternyata tidak semua daerah memberlakukan itu.

Akhirnya perjuangan pun di mulai, mulai dari meminta surat keterngan Pindah rayon ke UPDT wilayah sampai mendaftar ke Sekolah tersebut, hari hari saya habis dengan memantau melalui situs Web sekolah tersebut karena memang di berlakukan online, memantau nama anak apakah  masih ada atau tergeser dengan anak lain yg punya nilai lebih bagus, sehinnga apabila terus tergeser atau hilang dari peredaran buru -buru cabut bendel dan daftar ke sekolah lain yang tentunya dengan standar nilai di bawah sekolah pertama, bagaimana tidak stress pendaftaran dilakukan serentak di seluruh sekolah, kuota 5% dengan waktu kurang lebih 5 hari. Tepat hari terakhir nama anak saya masih terus bertengger, yes  puji syukur akhirnya keterima di sekolah tersebut, dan yang lebih menggembirakan adalah hanya mengeluarkan biaya Rp 290 ribu, itupun untuk biaya kaos olah raga dan buku wajib, tentunya hal ini membuat saya patut bersykur karena  anak  rekan saya yang tidak pindah Rayon sampai habis Rp 3 juta untuk biaya pendaftaran belum lagi nanti biaya SPP yang perbulan rata-rata Rp 200 ribuan.

Dari hasil pengalaman tersebut akhirnya saya bisa menarik kesimpulan sbb :
1. Persiapkan anak jauh-jauh hari sebelum mengikuti Ujian Nasional, dengan cara misal ikut Bimbel agar memperoleh hasil yang maksimal.
2. Pilih Sekolah yang sesuai keinginan anak, sehingga anak akan terpacu karena si anak merasa bertanggung jawab atas pilihannya
3. Kalau bisa pilih sekolah yang terdekat dekat dengan rumah atau atau paling tidak ada jalur angkotya,  kecuali anda mempunyai pasilitas antar jemput, tujuannya tentu ngirit ongkos,pengawasan, dan anak anda tidak selalu pulang kemalaman karena jauh + macet.yang bikin anak jenuh dan kecapean.
4.Kalau bisa Cari sekolah yang mendukung program batuan dari Pemda alias gratis, hehehe ini relatif tergantung daerah masing-masing
5. Cari tahu Wali kelasnya, biasa untuk koordinasi.

Yo wis ngono wae, tengkyu.

Share
  
   
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Satu hal lagi pak. Kalau anaknya sudah sekolah, sebisa mungkin diikutkan kelas-kelas khusus yang mengasah sisi kreativitas. Hanya mengandalkan akademik semata dari sekolah susah untuk survive di kehidupan pasca pendidikan, termasuk karir.