Home  /  Others  / 4 Misteri Terbesar Yang Belum Terungkap Tentang Indonesia

4 Misteri Terbesar Yang Belum Terungkap Tentang Indonesia


4 Misteri Terbesar Yang Belum Terungkap Tentang Indonesia

 

3. Peninggalan Dana Revolusi Presiden Soekarno

harta-karun-peninggalan-soekarno

Tahun 1906 terjadi ikrar raja-raja nusantara yang diprakasai oleh Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi), Soetomo, Raden Adipati Tirtokoesoemo (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

Dalam ikrar tersebut ditumbuhkannya rasa nasionalisme “tanah air (Indonesia) di atas segala-galanya”. Pada saat itu seluruh raja-raja nusantara menyumbangkan sebagian aset mereka untuk membantu perjuangan. (Dana Perjuangan). Sebagian dana itu dipakai untuk biaya perjuangan dan sebagian lagi disimpan di luar negeri.

Dana perjuangan atau lebih dikenal dengan Dana Revolusi dan Dana Amanah mulai dihimpun lagi pada masa setelah kemerdekaan. Dana Revolusi yang dihimpun berdasarkan Perpu No.19 tahun 1960. Isinya antara lain, mewajibkan semua perusahaan negara menyetorkan lima persen dari keuntungannya kepada pemerintah untuk kepentingan Dana Revolusi.

Yang disebut perusahaan negara itu, termasuk pula berbagai perusahaan Belanda yang baru dinasionalisasikan, seperti perkebunan-perkebunan besar. Konon, nilainya berjumlah hingga ratusan juta dolar yang tersimpan di luar negeri.

Salah satu sumber Dana Revolusi terbesar adalah adanya “Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva” dibuat dan ditandatangani pada 21 November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F. Kennedy dan Presiden RI Ir. Soekarno dengan saksi tokoh negara Swiss William Vouker.

Perjanjian ini menyusul MoU di antara RI dan AS tiga tahun sebelumnya. Point penting perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen keberadaan emas murni batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket emas dan pemerintah RI (selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa penggunaan kolateral dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.

Point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November 1965 (dua tahun setelah perjanjian).

Account khusus akan dibuat untuk menampung aset pencairan fee tersebut. Maksudnya, meski point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat sewa (leasing).

Biaya yang ditetapkan dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya. Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas persetujuan Sri Paus Vatikan.

Sedangkan pelaksanaan operasionalnya dilakukan Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam dua tahun ke depan sejak ditandatangani perjanjian tersebut, yakni 21 November 1965.

Sepenggal kalimat penting dalam perjanjian tersebut; “Considering this statement, which was written and signed in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were justobtained.”

Perjanjian hitam di atas putih itu berkepala surat lambang Garuda bertinta emas di bagian atasnya dan berstempel ’The President of The United State of America’ dan ’Switzerland of Suisse’.

perjanjian-the-green-hilton-memorial-agreement-geneva

Berbagai otoritas moneter maupun kaum monetarist menilai perjanjian itu sebagai fondasi kolateral ekonomi perbankan dunia hingga kini. Ada pandangan khusus para ekonom, AS dapat menjadi negara kaya karena dijamin hartanya ’rakyat Indonesia’, yakni 57.150 ton emas murni milik para raja di Nusantara ini.

Pandangan ini melahirkan opini kalau negara AS memang berutang banyak pada Indonesia karena harta itu bukan punya pemerintah AS dan bukan punya negara Indonesia, melainkan harta raja-rajanya bangsa Indonesia.

Bagi Politikus AS sendiri, perjanjian The Green Hilton Agreement merupakan perjanjian paling tolol yang dilakukan pemerintah AS. Karena dalam perjanjian itu AS mengakui aset emas bangsa Indonesia.

Sejarah ini berawal ketika 350 tahun Belanda menguasai Jawa dan sebagian besar Indonesia. Ketika itu para raja dan kalangan bangsawan, khususnya yang pro atau ’tunduk’ kepada Belanda lebih suka menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk batangan emas di bank sentral milik kerajaan Belanda di Hindia Belanda, The Javache Bank (cikal bakal Bank Indonesia).

Namun secara diam-diam para bankir The Javasche Bank (atas instruksi pemerintahnya) memboyong seluruh batangan emas milik para nasabahnya (para raja-raja dan bangsawan Nusantara) ke negerinya di Netherlands dengan dalih keamanannya akan lebih terjaga kalau disimpan di pusat kerajaan Belanda, saat para nasabah mempertanyakan hal itu setelah belakangan hari ketahuan.

Waktu terus berjalan hingga meletus Perang Dunia II di front Eropa, di mana kala itu wilayah kerajaan Belanda dicaplok pasukan Nazi Jerman.

Militer Hitler dan pasukan SS Nazi memboyong seluruh harta kekayaan Belanda ke Jerman. Sialnya, semua harta simpanan para raja di Nusantara yang tersimpan di bank sentral Belanda ikut digondol ke Jerman.

Perang Dunia II front Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman di tangan pasukan Sekutu yang dipimpin AS. Oleh pasukan AS segenap harta jarahan SS Nazi pimpinan Adolf Hitler diangkut semua ke daratan AS, tanpa terkecuali harta milik raja-raja dan bangsawan di Nusantara yang sebelumnya disimpan pada bank sentral Belanda.

Maka dengan modal harta tersebut, Amerika kembali membangun The Federal Reserve Bank (FED) yang hampir bangkrut karena dampak Perang Dunia II. Oleh ’pemerintahnya’ The FED ditargetkan menjadi ujung tombak sistem kapitalisme AS dalam menguasai ekonomi dunia.

Belakangan kabar ’penjarahan’ emas batangan oleh pasukan AS untuk modal membangun kembali ekonomi AS yang sempat terpuruk pada Perang Dunia II itu didengar oleh Ir. Soekarno selaku Presiden I RI yang langsung meresponnya lewat jalur rahasia diplomatik untuk memperoleh kembali harta karun itu dengan mengutus Dr. Subandrio, Chaerul Saleh dan Yusuf Muda Dalam, walaupun peluang mendapatkan kembali hak sebagai pemilik harta tersebut sangat kecil.

Pihak AS dan beberapa negara Sekutu saat itu selalu berdalih kalau Perang Dunia masuk dalam kategori Force Majeur yang artinya tidak ada kewajiban pengembalian harta tersebut oleh pihak pemenang perang.

dana-revolusi-presiden-sukarno

Namun dengan kekuatan diplomasi Bung Karno akhirnya berhasil meyakinkan para petinggi AS dan Eropa kalau aset harta kekayaan yang diakuisisi Sekutu berasal dari Indonesia dan milik Rakyat Indonesia. Bung Karno menyodorkan fakta-fakta yang memastikan para ahli waris dari nasabah The Javache Bank selaku pemilik harta tersebut masih hidup.

Salah satu klausul dalam perjanjian The Green Hilton Agreement tersebut adalah membagi separuh-separuh (50% & 50%) antara RI dan AS-Sekutu dengan ’bonus belakangan’ satelit Palapa dibagi gratis oleh AS kepada RI.

Artinya, 50 persen (52.150 ton emas murni) dijadikan kolateral untuk membangun ekonomi AS dan beberapa negara eropa yang baru luluh lantak dihajar Nazi Jerman, sedangkan 50 persen lagi dijadikan sebagai kolateral yang membolehkan bagi siapapun dan negara manapun untuk menggunakan harta tersebut dengan sistem sewa (leasing) selama 41 tahun dengan biaya sewa per tahun sebesar 2,5 persen yang harus dibayarkan kepada RI melalui Ir. Soekarno. Kenapa hanya 2,5 persen ? Karena Bun Karno ingin menerapkan aturan zakat dalam Islam.

Pembayaran biaya sewa yang 2,5 persen itu harus dibayarkan pada sebuah account khusus a/n The Heritage Foundation (The HEF) dengan instrumentnya adalah lembaga-lembaga otoritas keuangan dunia (IMF, World Bank, The FED dan The Bank International of Sattlement/BIS).

presiden-john-f-kennedy-dan-presiden-ir-soekarno

Jika dihitung sejak 21 November 1965, maka jatuh tempo pembayaran biaya sewa yang harus dibayarkan kepada RI pada 21 November 2006. Berapa besarnya ? 102,5 persen dari nilai pokok yang banyaknya 57.150 ton emas murni + 1.428,75 ton emas murni = 58.578,75 ton emas murni yang harus dibayarkan para pengguna dana kolateral milik bangsa Indonesia ini.

Padahal, terhitung pada 21 November 2010, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation (The HEF) sudah tidak terhitung nilainya.

Jika biaya sewa 2.5 per tahun ditetapkan dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 45 tahun X 2,5 persen = 112,5 persen atau lebih dari nilai pokok yang 57.150 ton emas itu, yaitu 64.293,75 ton emas murni yang harus dibayarkan pemerintah AS kepada RI.

Jika harga 1 troy once emas (31,105 gram emas ) saat ini sekitar 1.500 dolar AS, berapa nilai sewa kolateral emas sebanyak itu? Hitung sendiri aja.

Mengenai keberadaan account The HEF, tidak ada lembaga otoritas keuangan dunia manapun yang dapat mengakses rekening khusus ini, termasuk lembaga pajak. Karena keberadaannya yang sangat rahasia.

Karena itu, selain negara-negara di Eropa maupun AS yang memanfaatkan rekening The HEF ini, banyak taipan kelas dunia maupun ’penjahat ekonomi’ kelas paus dan hiu yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus ini agar terhindar dari pajak.

Tercatat orang-orang seperti George Soros, Bill Gate, Donald Trump, Adnan Kasogi, Raja Yordania, Putra Mahkota Saudi Arabia, bangsawan Turki dan Maroko adalah termasuk orang-orang yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus tersebut.

Pada masa Pemerintahan Soeharto hingga Megawati telah diadakan suatu operasi untuk mengembalikan dana tersebut ke Indonesia. Bahkan para bankir hitam kelas dunia, CIA dan MOSSAD (agen rahasia Israel) berusaha keras untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut, termasuk mencari tahu siapa yang diberi mandat Ir. Soekarno terhadap account khusus itu.

Namun usaha pihak-pihak yang mencoba mendapatkan harta tersebut belum menghasilkan. Ir Soekarno atau Bung Karno tidak pernah memberikan mandat kepada siapapun. Artinya pemilik harta rakyat Indonesia itu tunggal, yakni atas nama Bung Karno sendiri. Sampai saat ini!

Bersambung ke halaman 4 >>>

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Laman: 1 2 3 4

Related Post


Ini Dia Alasan Mengapa memilih Rusia Untuk Kuliah Di Luar Negeri
Ini Dia Alasan Mengapa memilih Rusia Untuk Kuliah Di Luar Negeri

Melanjutkan studi ke luar negeri siapa takut ! banyak keuntungan…

Sejarah Islam Pertama Kali Masuk ke Indonesia, yang Belum diketahui oleh Umat Islam
Sejarah Islam Pertama Kali Masuk ke Indonesia, yang Belum diketahui oleh Umat Islam

Pada 7 tahun kemudian tepatnya 718 M, Khalifah Umar Bin…

Buku Think Dinar
Buku Think Dinar

Beberapa hari yang lalu saya mendapat Email dari seorang kawan,…

Fan Page Cita-citaku.com
Fan Page Cita-citaku.com

Tetap Semangat kali ini saya mau ngasih info kalau blog…





Add Comment


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *